Gunung Berapi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata

YOGYAKARTA, (PRLM).- Apa yang ada di atas kertas ketika anak-anak di Indonesia diminta oleh gurunya menggambar? Barangkali, mayoritas adalah gambar dua gunung berapi, persawahan dan jalan desa yang membelah pemandangan itu. Kepala Badan Geologi, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, yang juga seorang ahli kegunungapian, Dr Surono, menilai fakta itu adalah bukti bahwa gunung api begitu dekat dengan masyarakat Indonesia, bahkan sejak berusia belia.
Sayangnya, hingga kini masyarakat masih memendam ketakutan terhadap gunung berapi, sehingga ketika mendengar status sebuah gunung dinaikkan potensi bahayanya, masyarakat cenderung was-was. Padahal, sebagai negara dengan lebih dari 120 gunung berapi di dalamnya, Indonesia adalah wilayah yang masyarakatnya akan selalu terkait dengan aktivitas vulkanik.

wisata gunung berapi

“Indonesia memiliki Gunung Berapi terbanyak di dunia. Mari kita syukuri, mari kita nikmati itu sebagai suatu karunia dari Tuhan Yang Maha Hebat. Kita harus mempelajari gunung api agar kita bisa bersikap arif terhadap gunung api. Mari, kita gunakan gunung api sebagai suatu media untuk mawas diri,” kata Surono.

Surono mencontohkan, sektor pariwisata Indonesia selalu merasa dirugikan dengan kenaikan status sebuah gunung. Padahal, banyak negara di dunia yang justru memanfaatkan aktivitas gunung api sebagai obyek wisata unggulan.

“Saya punya teman-teman di Prancis. Mereka hidup dan bersekolah sampai S3 itu dengan promosi mengantar orang Prancis berwisata gunung api di Indonesia. Nah, kita ini punya gunung api terbanyak di dunia, kok justru ketakutan tidak keruan. Padahal daerah yang subur itu daerah gunung api semua. Belasan ribu pulau di Indonesia jika tanpa gunung berapi itu hanya karang semua,” tambahnya.

Surono yang ditemui di sela persiapan konferensi Cities on Volcanoes ke-8 di Yogyakarta menegaskan, bahaya gunung berapi dapat dipelajari, dan karena itu masyarakat sebenarnya tidak perlu khawatir.

Yogyakarta memang menjadi tuan rumah konferensi kota-kota di bawah gunung berapi sedunia ke-8 yang digelar selama 5 hari, yaitu sejak tanggal 9-13 September 2014. Cities on Volcanoes adalah konferensi yang khususnya dihadiri oleh pemerintah daerah di seluruh dunia yang memiliki gunung api aktif di wilayahnya.

Selain itu tentu saja hadir pula para pakar kegunungapian dan pihak-pihak yang terkait dengan penanganan bencana sebagai dampak aktivitas gunung berapi. Para peserta juga akan mengunjungi sejumlah gunung berapi di Indonesia, khususnya Merapi yang ada di Yogyakarta.
Menurut Noer Cholik, salah satu panitia konferensi ini, para peserta akan melihat langsung bagaimana masyarakat Indonesia hidup di bawah ancaman gunung api, termasuk menyaksikan dampak letusan Merapi terakhir yang terjadi tahun 2010 lalu.

“Merapi ini daya tariknya selain dari ilmu pengetahuan, di bidang pariwisata juga. Nah, kita ingin mengajak para ilmuwan yang datang ke konferensi ini untuk ikut naik ke Merapi, karena belum tentu mereka pernah naik. Kita ajak merena naik ke Merapi, kita tunjukkan alat monitoring yang kita pasang di Merapi. Kemudian kita tunjukkan bagaimana kegiatan sehari-hari yang kita lakukan untuk pemantauan Merapi,” kata Noer.

Pertemuan-pertemuan dalam konferensi kota ini akan disatukan dalam tema besar yaitu hidup harmonis bersama gunung berapi, menjembatani kehendak alam kepada masyarakat. Sebanyak 540 peserta dari 42 negara dipastikan hadir.(voa/A-17)***

Akses ke Gunung Semeru dari Malang Ditutup

Akses ke Gunung Semeru dari Malang Ditutup
TEMPO.CO, Malang -Jalan wisata ke Gunung Semeru lewat jalur Malang-Lumajang ditutup mulai 9 September sampai 9 Desember 2013 karena sedang dalam masa perbaikan. Jalan akan dibeton dan dilapisi aspal.

"Jalan itu sudah sangat rusak, makanya kami perbaiki. Seluruh anggaran perbaikan murni dari Kementerian Kehutanan. Mohon maaf bila akses ke Gunung Bromo dan utamanya ke Gunung Semeru lewat Malang untuk sementara ditutup," kata Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Ayu Dewi Utari kepada Tempo pada Senin malam, 7 Oktober 2013.

Menurut Ayu, jalur yang ditutup mulai pintu masuk obyek wisata Coban Trisula di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo hingga Desa Ranupani di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, sepanjang sekitar 6 kilometer rata-rata lebar jalan 6 meter. Namun, jalan yang diperbaiki dan ditutup total sepanjang 3,2 kilometer, dari Pos Jemplang di Ngadas sampai Ranupani.



Pos Jemplang merupakan meeting point yang biasa dipenuhi wisatawan yang beristirahat sebelum memasuki wilayah sabana dan lautan pasir (kaldera) Bromo atau hendak ke Ranupani. Selain berfoto-foto, wisatawan juga dapat mengamati sabana dan lautan pasir dari menara setinggi 6 meter. Wujud Gunung Bromo sendiri tak kelihatan karena terhalang perbukitan, kecuali asapnya saja. Sedangkan Ranupani merupakan pos perizinan dan pengecekan barang bawaan bagi semua pengunjung yang hendak mendaki Gunung Semeru.
"Untuk minggu ini kendaraan masih bisa melintas. Tapi minggu depan seluruh jalan ditutup total. Kalau tetap mau lewat ke Bromo atau Semeru lewat Jemplang, maka harus mau jalan kaki. Jalur itu satu-satunya akses dari Malang ke Bromo dan Semeru," ujar Ayu.

Alhasil, wisatawan tujuan Bromo disarankan menempuh jalur dari Pasuruan dan Probolinggo. Sedangkan yang hendak ke Ranupani tiada jalan lain kecuali lewat jalur Pronojiwo, Lumajang.
ABDI PURMONO

Tips Liburan ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Tips Liburan ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Tips Liburan ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango â€" Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) salah satu taman nasional yang dimiliki Indonesia. Memiliki luas sekitar 22 hektar berada di Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Fungsi dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango adalah sebagai kawasan konservasi untuk tempat perlindungan flora dan fauna endemik seperti lutung hitam, rasa mala dan puspa dilindungi populasi dan habitatnya yang terdapat di Jawa Barat. Selain ketiga nama tersebut, taman nasional ini juga dikenal sebagai Pusat Perlindungan Owa dan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari.

Info dari wiki tempat liburan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini juga sebagai daerah resapan hujan untuk melindungi Bogor dan Jakarta dari bencana banjir. Selain Taman Nasional Gunung Gede Pangrango masih ada beberapa taman nasional diantara Halimun Salak, atau Bantimurung Bulusaraung yang sering dikunjungi wisatawan untuk liburan.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango 636x366 Tips Liburan ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Meskipun taman nasional adalah salah satu tempat yang digunakan untuk konservasi. Namun masih ada beberapa bagian yang bisa dikunjungi wisatawan, khususnya bagi pecinta pecinta alam. Misalnya Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang saat ini menjadi salah satu pilihan untuk mengisi liburan.
Sebelum Anda memutuskan untuk liburan ke Taman Nasional, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan sebelum pergi ke sana. Berikut ini tips liburan hemat ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Baca juga pesona tempat wisata Taman Nasional Bromo Tengger.

1. Bawalah Surat Izin
Tips liburan ke taman nasional yang pertama adalah lengkapilah berkas perizinan Anda. Ada beberapa bagian di taman nasional yang mewajibkan pengunjung membuat surat izin masuk kawasan konservasi sebelum Anda memasukinya. Surat izin ini tidak berlaku jika taman nasional tersebut memang sengaja dibuka untuk umum.

Jika kita berkunjung ke taman nasional seperti itu, kita cukup dengan membayar tiket masuk taman nasional nya saja. Namun jika kita diharuskan membuat sura izin, sebaiknya cari tahu berkas apa saja yang perlu dipersiapkan agar perizinan liburan ke taman nasional menjadi lancar.

2. Jagalah Kebersihan
Karena kita berada di kawasan konservasri, tips liburan ke taman nasional selanjutnya adalah jangan membuang sampah sembarangan. Kita harus bisa menjaga kebersigan taman nasional tersebu, apapun itu alasannya. Jika jarak tempat sampah menjadi alasan, bawalah kantung plastik sebagai tempat membuang sampah sementara jika kita tidak menemukan tempat sampah terdekat.

3. Jangan Sembarangan Mendirikan Tenda
Liburan ke taman nasional memang lebih asik jika kita bisa mendirikan tenda untuk berteduh ataupun sebagai sarana untuk ngerumpi. Tips liburan ke taman nasional ketiga adalah kita harus memperhatikan tempat jika ingin mendirikan tenda. Sebaiknya dirikanlah tenda di tempat yang telah ditentukan pengurus taman nasional.
Jangan sekali-kali mendirikan tenda di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di tempat sembarangan, ini berkaitan dengan keselamatan. Tentu saja kita tak mau tiba-tiba ada hewan liar datang ke kemah karena sembarangan mendirikan tenda, bukan?

4. Pergunakan Trek Jalan Yang Ditentukan
Bagi pengunjung taman nasional yang ingin melakukan trekking di dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, pastikan untuk memahami jalur/trek yang boleh dan harus dilalui. Gunakanlah trek yang telah disediakan taman nasional untuk menikmati perjalanan. Jangan sekali-kali membuka jalur baru karena bisa membuat Anda terancam keselematannya dan tersesat.

5. Jagalah Kelestarian Alam
Selain harus tetap menjaga kebersihan, tips liburan ke taman nasional yang tak kalah pentingnya adalah kita harus selalu menjaga kelestarian alam. Jangan seenaknya mencabut rumput atau tanaman. Jangan pula menganggu hewan yang ada di taman nasional. Biarkan mereka hidup dengan tenang, jangan usik mereka.
Demikianlah tips liburan ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini. Sebagai tambahan tips wisata ke taman nasional, jangan malu-malu untuk meminta bantuan ke Ranger atau polisi hutan biasa disediakan pengurus taman nasional. Mereka dapat membantu petunjuk jalan dan juga memberikan informasi taman nasional yang Anda kunjungi. Kunjungi terus tipsjalan.com untuk mendapatkan tips liburan hemat selanjutnya.

Gunung Ijen Dibuka Lagi untuk Wisatawan

TEMPO.CO, Jember - Kabar baik bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Gunung Ijen. Gunung yang terletak di Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi itu kini mulai dibuka lagi setelah setahun lebih ditutup karena peningkatan aktifitas vulkaniknya.

"Secara resmi mulai terbuka terbatas untuk kegiatan pariwisata sejak 1 September 2013 lalu,” kata Sunandar Trigunajasa, Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jawa Timur, Selasa, 3 September 2013.

Sunandar mengatakan, pembukaan Gunung Ijen menyusul menurunnya status Gunung Ijen dari siaga menjadi waspada. Pembukaan kembali gunung berapi setinggi 2.386 di atas permukaan laut itu dilakukan setelah BKSDA menerima surat dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada 26 Agustus 2013.



Surat itu, kata Sunandar, menyatakan bahwa status keaktifan Gunung Ijen menurun dari level III (Siaga) ke Level II (Waspada). “Itu artinya, risiko bahayanya tentu berkurang, kata dia.

BKSDA pun mengeluarkan surat edaran yang menyatakan kawasan Gunung Ijen dibuka secara terbatas untuk kegiatan pariwisata alam. Pembukaan secara terbatas itu untuk menjaga keamanan serta keselamatan pengunjung. "Jadi kami batasi hingga radius satu kilometer dari kawah Ijen yang sedang aktif. Sudah ada tanda-tanda larangan di sana," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga dan Perhubungan Kabupaten Bondowoso, Bambang Sukwanto, mengungkapkan kegembiraannya dengan pembukaan kembali kawasan Gunung Ijen untuk wisatawan. Selama setahun lebih, kawasan itu ditutup karena PVMBG menyatakan kondisi gunung itu berbahaya. "Sejak juni 2012, statusnya siaga, tak ada turis ke sana. Kami menyambut baik pembukaan itu," katanya singkat.
MAHBUB DJUNAIDY

Memantau Elang Jawa di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

TEMPO.CO, Malang - Populasi elang Jawa di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bertambah dari kisaran lima-enam ekor pada 2012 saat ini menjadi sekitar sembilan ekor. Elang yang terpantau terdiri atas tiga pasang elang Jawa dewasa ditambah dua ekor elang Jawa anakan dan seekor elang Jawa remaja.

Pertambahan populasi elang Jawa diketahui dari hasil pengamatan kedua oleh Tim Pemantau Elang Jawa Balai Besar TNBTS pada 31 Juli sampai 4 Agustus 2013. Adapun pemantauan pertama dilakukan pada 25-29 September 2012. Wartawan Tempo termasuk salah seorang anggota tim.

Koordinator Tim Pemantau Elang Jawa Balai Besar TNBTS Elham Purnomo menjelaskan, jumlah populasi yang terpantau kali ini melebihi target prioritas penambahan populasi elang Jawa sebanyak 3 persen, seperti yang ditetapkan Ditjen PHKA (Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam) pada 2010. “Yang terpantau kali ini memang lebih banyak dibandingkan dengan tahun lalu,” katanya kepada Tempo di kantornya, Selasa, 13 Agustus 2013.

Elham menjelaskan, pengamatan dilakukan di dua Wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II, yakni Wilayah Resor Pengelolaan Hutan Taman Nasional (RPTN) Coban Trisula, dan RPTN Jabung.

Pengamatan di RPTN Jabung dipusatkan di Blok Bendolawang, Desa Ngadirejo, serta Blok Cincing, Desa Sukopuro. Kedua desa tersebut berada di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Sedangkan pengamatan di RPTN Coban Trisula dipusatkan di pos pantau obyek wisata air terjun itu, persisnya di sepanjang jalan yang merupakan akses ke Gunung Semeru dan Gunung Bromo.



Di Blok Bendolawang, tim menyaksikan kemunculan elang Jawa di antara berbagai jenis burung lainnya. “Kemunculan banyak burung di Bendolawang mengindikasikan hutan TNBTS masih berkondisi bagus sebagai habitat burung, termasuk elang Jawa,” ujar salah seorang anggota tim, Toni Artaka.

Momentum terbaik didapat tim saat menyaksikan kemunculan mendadak sepasang elang Jawa, induk dan anak, di Blok Bendolawang pada Kamis, 31 Juli 2013. Sang induk sedang mengajari anaknya terbang.

Pemantauan di Blok Cincing, tim menyaksikan elang Jawa dewasa yang terbang rendah dan berputar-putar sekitar dua menit di wilayah terbuka perbatasan hutan TNBTS dan Perhutani.

Toni memastikan elang Jawa ini berasal dari individu yang sama yang terpantau di Blok Bendolawang pada Jumat, 1 Agustus 2013.

Pada pengamatan pertama tahun lalu, tim mencatat kemunculan elang jawa rata-rata seekor di RPTN Jabung dan RPTN Coban Trisula. Namun, nihil di RPTN Patok Picis.

Kendati jumlah yang terpantau pada 2012 sangat sedikit, itu sudah cukup bagi Balai Besar TNBTS untuk memastikan bahwa elang Jawa resmi menjadi salah satu satwa penghuni kawasan TNBTS. Sebelum September 2012 tak pernah ada catatan dan data resmi keberadaan elang Jawa di sana.

Elang Jawa berstatus genting karena terancam punah. Elang Jawa mendapat perlindungan hukum berskala internasional dan nasional. Di dalam negeri, misalnya, elang Jawa bersama 13 spesies lain mendapat prioritas utama untuk dilindungi dan populasinya ditingkatkan sebanyak 3 persen sepanjang kurun 2010-2014.

Hal itu tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor: SK.132/IV-KKH/2011 Tanggal 8 Juli 2011 tentang Penetapan Empat Belas Spesies Terancam Punah.

Menurut Heru Cahyono, kemunculan elang Jawa anakan dan elang Jawa dewasa mengindikasikan bahwa reproduksi elang Jawa relatif berhasil. Sebab, proses reproduksi elang Jawa tergolong lambat. Dalam dua tahun, elang Jawa betina hanya bertelur satu butir dan itu pun dengan risiko gagal menetas akibat sarang rusak atau telurnya hilang akibat pencurian oleh para pemburu.

ABDI PURMONO

Gunung Burangrang

UDARA dingin di Desa Kertawangi terasa begitu menusuk sumsum. Nyanyian burung-burung di pagi hari terasa begitu indah dan harmonis. Puncak Gunung Burangrang masih tertidur diselimuti kabut putih yang menawan. Tampaknya sinar matahari pagi masih enggan memancarkan sinarnya seakan-akan masih terbuai dalam tidurnya.

Wisata alam Gunung Burangrang yang terletak di Desa Kertawangi Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung, tidak pernah sepi dari para wisatawan petualang yang ingin menikmati keindahannya dengan berbagai pesona alam dan misterinya.

Untuk mencapai Gunung Burangrang dapat ditempuh dari berbagai jalur pendakian, misalnya melewati Desa Kertawangi, dari arah Bandung menuju Cihanjuang dengan ongkos Rp 2.000,00.

Kemudian dari Cihanjuang dilanjutkan dengan angkutan mobil Colt warna ungu menuju Parongpong seharga Rp 2.500,00 atau bisa diborong sampai dengan Gerbang Komando seharga Rp 4.000,00 per orang. Dari Pos Komando, kita akan menemukan jalan berbatu sampai Gerbang Militer Kopassus, dari sana belok ke kiri, jangan masuk ke gerbang Militer karena bila masuk akan menuju Situ Lembang, Gunung Sunda, dan Gunung Tangkuban Parahu.

Sepanjang jalan menuju pintu gerbang Situ Lembang akan melewati bukit-bukit yang indah dan cukup menguras tenaga. Masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Burangrang, kebanyakan bertani sayuran dan berternak sapi. Mereka sangat ramah seperti orang-orang Sunda pada umumnya jika menyambut tamu. Jika naik dari Cihanjuang, sepanjang jalan yang dilewati akan dijumpai vila-vila dan perumahan yang indah serta wahana wisata Curug Cimahi yang berada di kaki Gunung Burangrang.

Ada pula cara lain, misalnya berangkat dari Bandung menuju Subang dengan kendaraan bis atau mobil Elf, lalu turun di gerbang Tangkubanparahu yang merupakan objek wisata alam yang cukup terkenal di Jawa Barat. Dari Puncak Gunung Tangkubanparahu, kita menuruni tower Tangkubanparahu menuju Gunung Burangrang dengan terlebih dahulu akan melewati kawah Upas, Domas, Ratu, dan Jurig yang cukup menawan di kawasan Tangkubanparahu.

Saat kami berada di puncak Gunung Burangrang, lambat laun matahari mulai bangkit dari peraduannya dan perlahan-lahan menerangi Desa Kertawangi, sehingga menjadi terang dan cerah. Desa Kertawangi merupakan titik awal pendakian menuju puncak Gunung Burangrang. Walaupun gunung itu tidak terlalu tinggi, kawasan hutan Gunung Burangrang memiliki jenis flora dan fauna yang bervariasi. Kelebatan hutannya pun masih terjaga dengan baik sehingga menarik bagi para petualang alam bebas.



Di samping keindahan alamnya, di kawasan Gunung Burangrang terdapat danau yang cukup besar dan indah bernama Situ Lembang. Situ ini jika terkena sinar matahari akan memantulkan warna pelangi yang memesona. Masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Burangrang memanfaatkan situ (danau) ini untuk memancing, karena di Situ Lembang terdapat berbagai jenis ikan untuk dikonsumsi.

Tepat pukul 8.00 WIB memulai melakukan pendakian dengan tidak lupa mengisi persediaan air yang cukup, karena sumber air di atas sana sulit dijumpai selama perjalanan pendakian. Dengan diiringi doa, kami mulai berangkat menuju puncak Gunung Burangrang.

Suara harmoni burung-burung berkicau masih terdengar saling bersahutan melepas kepergian kami menuju puncak.

Sepanjang jalan pendakian masih didominasi pohon-pohon pinus. Kami melewati bukit-bukit yang menguras banyak tenaga. Sejenak kami beristirahat menghirup udara segar alam Burangrang. Sekali-kali cahaya langit mengintip di balik daun-daun dalam kelebatan hutannya.

Puncak Burangrang dapat ditempuh kurang lebih empat jam pendakian dari Desa Kertawangi. Bila telah tiba di puncak, ada rasa damai, tenteram, serta bahagia, yang seolah-olah menyatu dalam batin. Dari puncak Gunung Burangrang pemandangannya menakjubkan dan tampak awan putih menyelimuti gunung-gunung di sekitarnya. Terlihat pula dengan jelas dari kejauhan Gunung Tangkubanparahu nan elok.

Pemandangan yang tidak kalah menariknya adalah hamparan sawah dan rumah-rumah di sekitar Cisarua serta Situ Lembang yang terlihat begitu indah dan menawan. Matahari naik semakin tinggi. Waktu telah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Kami memutuskan untuk turun kembali menuju Desa Kertawangi yang merupakan titik awal pendakian. (Imam Syarifuddin)***

Wisata Gunung Rinjani di Lombok

Siapa tidak kenal Gunung Rinjani di Lombok? Ya, Lombok memang pulau yang memiliki ‘sejuta’ daerah wisata yang beragam mulai dari pantai, kepulauan kecil sampai gunung yaitu Gunung Rinjani. Gunung Rinjani pun termasuk daerah wisata yang dilestarikan dikenal dengan nama Taman Nasional Gunung Rinjani dengan luas 40 ribu hektare. Puncaknya 3.720 meter dari permukaan laut (mdpl) dan termasuk gunung ketiga tertinggi di Indonesia. Selain kita akan melihat Gunung Rinjani ketika wisata Gunung Rinjani di Lombok, kita juga bisa melihat Danau Segara Anak. Danau ini terbentuk karena letusan Gunung Rinjani pada zaman purba. Pada waktu itu diperkirakan Gunung Rinjani mempunyai tinggi 5000 mdpl.



Keindahan Danau Segara Anak

Permukaan Danau Segara Anak ini pun pernah didokumentasikan dalam pecahan uang Rp 10.000 oleh Bank Indonesia. Danau Segara Anak pada tahun 1994 pernah terangkat naik karena aktivitas letusan Gunung Rinjani yang menyebabkan munculnya gunung baru di permukaan danau yang diberi nama Gunung Baru Jari. Aktivitas vulkanik yang ada menjadikan Gunung Baru Jari ini semakin tinggi dan semakin tinggi merupakan pusat wisatawan yang mendaki ke Gunung Rinjani. Oleh karena itu Bank Indonesia sendiri merasa hal ini patut dipromosikan sebagai kekayaan alam Indonesia. Kita yang mendaki Gunung Rinjani bisa beristirahat di Danau Segara Anak karena lokasinya cocok untuk berkemah. Di sini kita juga bisa memanjakan lidah dengan memancing ikan-ikan yang ditebar di danau. Bahkan penduduk setempat pun tak jarang rela berjam-jam mendaki hanya untuk memancing dan beristirahat di sana.

Keanekaragaman Flora dan Fauna di Taman Nasional Gunung Rinjani

Di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani pun memiliki keanekaragaman flora dan fauna, misalnya saja ada kijang, kepudang kuduk hitam, dawah hutan, burung cikukua tanduk, trenggiling, lutung budeng dan ada beberapa jenis reptilia lainnya. Jenis tumbuhan yang ada di sini pun tak terhitung. Kita yang ingin melakukan wisata Gunung Rinjani di Lombok bisa memilih empat rute yaitu rute Desa Sembalun, Desa Lawang, Desa Torean dan Desa Senaru. Daerah wisata Gunung Rinjani di Lombok ini pun dikelola dengan baik, ini terbukti dari konsep kemitraan yang bagus dimiliki oleh daerah wisata ini. Konsep kemitraan Taman Nasional Gunung Rinjani melibatkan lembaga swadaya masyarakat, tokoh agama, adat dan industri pariwisata, paramuwisata, porter dan masyarakata sekitar Gunung Rinjani.

Taman Nasional Gunung Rinjani pun pernah meraih prestasi membanggakan karena tata kelola berbasis kemitraan yang mereka buat berhasil. Taman Nasional Gunung Rinjani pun mendapatkan penghargaan dari Destination Stewardship Award pada 2004 dari National Geographic Travelers dan Conservation International (CI). Taman Nasional Gunung Rinjani pun pernah dinominasikan oleh World Travel dan Tourism Council di kategori Destination Award pada tahun 2005. Pada tahun 2007 menjadi finalis Tourism for Tomorrow Award 2007.