Ini Alasan Raja Ampat Mahal

Ini Alasan Raja Ampat Mahal

Ini Alasan Raja Ampat Mahal (Foto:Thesevenseas) WISATA alam di Timur Indonesia jadi sorotan wisatawan. Keindahan alam mengagumkan di Raja Ampat, Papua. Namun mengapa masih harus merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa menikmatinya?

"Sampai saat ini wisata ke Raja Ampat Papua masih mahal karena sarana transportasinya kurang memadai, mau tak mau jalur udara harus dilalui, dan sewa pesawat, sewa mobil khusus, karena medan agak sulit," jelas David, manager dari Wahana Tour dijumpai Okezone di Jakarta.

Ia menyayangkan pemerintah harusnya memperhatikan aspek ini sebagai daya tarik wisata belum maksimal perihal akses menuju Raja Ampat, padahal ini potensi membanggakan untuk Indonesia di sektor pariwisata.

Jika bicara budget, ia menambahkan minimal Rp15 juta untuk traveller yang berpergian. Harga itu sudah low budget. Padahal dengan jumlah tersebut, kita bisa berpergian ke luar negeri, contohnya ke Singapura, Malaysia, Thailand. Mahalnya harga membuat wisatawan bingung, ingin wisata dalam negeri, atau menjelajah negeri orang.

"Meski transportasi masih sulit, jadi harus keluar uang banyak. Setelah di sana, keindahan biota laut luar biasa bagus, terumbu karang warna warni, air laut jernih, udara bersih di Raja Ampat. Biota laut mengagumkan," tutupnya.
(jjs)

Liburan ke Pulau Misool, Papua Siapkan Rp15 Juta

Liburan ke Pulau Misool, Papua Siapkan Rp15 Juta

Pulau Misool (Foto:Indonesia.travel) PULAU Misool Raja Ampat menjadi paket destinasi unggulan yang ditawarkan Kakaban Trip pada pameran GATF 2014. Siapkan sekira Rp15 juta sudah dapat mengunjungi pulau tersebut.

Ya, kecantikan pulau tersebut seolah tak dapat diungkap dengan rangkaian kata. Walau harus membayar mahal, wisatawan mendapat kepuasan jika mengunjungi pulau menakjubkan tersebut.

"Setiap tempat tour beda-beda fasilitasnya. Pemandangannya beda juga. Kalau Misool Raja Ampat menurut saya paling sempurna," ucap Latiful Amri, Kakaban Trip kepada Okezone di Cendrawasih Hall, JCC Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (14/9/2014)

Di pulau tersebut, tambah Amri, traveler bisa merasakan indahnya liburan dan menginap di eco resort yang dikelola warga asing. Selain itu, wisatawan yang bertandang ke sana bukanlah orang sembarangan.

Menurutnya, banyak sekali resort di pulau membeli label eco resort. Namun, dari segi penggunaan belum memenuhi standar eco resort.

"Selama GATF 2014, Kakaban Trip menjual paket liburan 6 hari 5 malam ke Misool. Antusiasme pengunjung besar banget. Apalagi setiap penjualan paket kita beri diskon Rp250 ribu dari biasanya," imbuhnya

Sementara itu, biaya mahal bukan masalah. Karenanya, liburan ke Pulau Misool benar-benar penghargaan tersendiri karena merogoh kocek dalam sekira Rp15 juta, sudah termasuk tiket pesawat dan menginap di eco resort semalam. Tertarik mencobanya?
(jjs)

Festival Teluk Humboldt Papua Digelar

TEMPO.CO, Jayapura - Memasuki hari kedua, Festival Teluk Humboldt ke-V yang diselenggarakan 5 hingga 7 Agustus 2013 di Pantai Hamadi, Kota Jayapura, Papua dengan tema Love, Culture and Green itu, terlihat pengunjung mulai berkurang. Padahal sebelumnya, saat dibuka resmi Walikota Jayapura, Benhur Tommy Mano pada Senin, 5 Agustus 2013, pengunjung cukup ramai.

"Di tahun sebelumnya, pengunjung cukup banyak dibanding tahun ini. Saya sendiri baru datang berkunjung pada hari ini, sebab baru mengetahui tadi pagi melalui berita di koran. Selain saya, banyak warga Kota Jayapura yang tak mengetahuinya, jadi jangan berharap warga yang ada di Kabupaten Jayapura atau Kabupaten Keerom bisa hadir," kata Agus, 30 tahun, salah satu pengunjung, Selasa, 6 Agustus 2013.

Kurangnya perhatian masyarakat terhadap pergelaran Festival Teluk Humboldt ke-V ini mendapat tanggapan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia. "Pemerintah daerah atau panitia pelaksana maupun penyelenggara dalam menggelar event ini, perlu melibatkan seluruh lapisan masyarakat," kata Kepala Sub Direktorat Promosi Tujuan Wisata V, Maria Mayabubun, Selasa, 6 Agustus 2013.

Menurut Maria, pemerintah daerah melalui instansi terkait harus tahu cara mengemas kegiatan, terutama yang berhubungan dengan budaya."Kita memberikan peluang kepada masyarakat melalui pameran hasil kreatifitas mereka, dan mengarahkan mereka agar bagaimana mengemas hasil produk mereka yang menghasilkan nilai jual," katanya.



Sehingga nantinya, kata Maria, masyarakat merasa bahwa kegiatan seperti itu bukan hanya milik pemerintah, tetapi juga milik mereka. "Jika mau mengemas acara seperti itu untuk menjadi semarak, maka siapkan dulu masyarakatnya dan juga industri pariwisatanya. Tapi saya berharap, Festival Teluk Humboldt ini nanti bisa menjadi event international," katanya.

Festival yang memasuki tahun kelima ini merupakan acara tahunan pemerintah daerah Kota Jayapura. Event ini telah masuk kalender Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pada festival ini, juga dilaunching Logo Festival Teluk Humboldt, yang rencananya akan dibuat peraturan daerahnya untuk dipatenkan. Sehingga di tahun berikutnya logo itu tersebut dapat digunakan.

Pada festival kelima ini, kembali disuguhkan berbagai kesenian tradisional dari sejumlah kampung di pesisir Teluk Humboldt yang berada di dalam wilayah Port Numbay atau biasa dikenal sebagai Kota Jayapura. Kesenian tradisional yang ditampilkan, diantaranya tari-tarian adat dari suku asli yang ada di wilayah pesisir Teluk Humboldt, seperti Suku Tabi dan Suku Engros.

Selain itu, juga diadakan pameran kuliner menu kearifan lokal setempat dan juga pameran cenderamata khas masyarakat daerah pesisir pantai di Teluk Humboldt. Juga ditampilkan Tumpeng Humboldt Nusantara yang melambangkan bulan tahun kemerdekaan Indonesia, yakni setinggi delapan meter dan berisi 1945 buah kue jajanan pasar, termasuk 5.000 papeda bungkus.

"Persiapan festival ini cukup singkat, kurang lebih satu bulan. Sebenarnya rencana festival akan dilaksanakan usai lebaran, tapi mengingat event ini sudah masuk kalender tahunan di Kementerian Pariwisata yang dilaksanakan setiap tanggal 5-7 Agustus, maka kami tak bisa menundanya," kata Ketua Panitia Pelaksana, Syahrir Hasan, yang juga Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Papua, Selasa, 6 Agustus 2013.
CUNDING LEVI